Advertisement
![]() |
| Foto kiri: dr. Ivan Master Worung, Sp.PK., FISQua., M.M, mempresentasikan HCLAB bersama kalangan rumah sakit melalui PERSI Cabang Sulawesi Utara, di Four Points Hotel Manado, Jumat (14/8/2026). |
MANADO — Upgrade terhadap sistem dan informasi Kesehatan di rumah sakit bukan semata-mata soal teknologi, melainkan bagian dari kepedulian rumah sakit terhadap mutu pelayanan, efisiensi pengelolaan sumber daya dan keselamatan pasien yang mereka rawat.
Nah, Rumah Sakit Daerah seperti RS-ODSK dan RS Prof Dr Kandouw Malalayang juga perlu sudah saatnya meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit dan tidak hanya melulu bergantung pada kecanggihan alat medis.
Untuk itu, Rumah Sakit saat ini membutuhkan sistem informasi yang mampu mengintegrasikan data laboratorium secara cepat, akurat dan terukur juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas pelayanan kesehatan.
Hal ini yang menjadi fokus perhatian dalam pengenalan HCLAB (Healthcare Laboratory Information System) yang digelaran bersama kalangan rumah sakit melalui Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Cabang Sulawesi Utara, Jumat (14/8/2026) di Four Points Hotel Manado.
Jap Lai Khung, SH (Boni) dari PT Kristalab Surya Medika, yang turut terlibat dalam pengenalan solusi teknologi HCLAB kepada fasilitas pelayanan kesehatan, mengatakan digitalisasi laboratorium perlu dipandang sebagai investasi untuk meningkatkan mutu pelayanan, bukan sekadar pengadaan perangkat teknologi.
Menurut Boni, rumah sakit saat ini menghadapi kebutuhan untuk mengelola data pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium secara semakin cepat serta terintegrasi.
Karena itu, sistem informasi laboratorium harus mampu berkomunikasi dengan berbagai perangkat pemeriksaan dan sistem informasi rumah sakit.
“Sistem HCLAB ini dirancang untuk membantu rumah sakit mengelola proses laboratorium secara lebih terintegrasi, mulai dari pemeriksaan, pengolahan hasil, pengendalian mutu hingga penyampaian informasi kepada tenaga medis,” ujar Boni.
Ia menjelaskan, HCLAB memiliki sejumlah fitur yang dapat membantu meningkatkan produktivitas laboratorium. Otomatisasi proses dapat mempercepat (turnaround time) atau waktu penyelesaian pemeriksaan, sekaligus mengurangi pekerjaan manual yang berpotensi menimbulkan kesalahan.
Lanjut Bonie, bahwa sistem ini juga dilengkapi auto-verification dan rule-based engine, yang memungkinkan pengolahan data berdasarkan aturan tertentu untuk membantu proses pemeriksaan dan penyaringan hasil sebelum hasil diteruskan kepada tenaga medis.
Lebih jauh, HCLAB mampu mendukung pemantauan kualitas hasil laboratorium secara holistik. Data dapat dianalisis dalam bentuk grafik tren, analisis Levey-Jennings, multi-level quality control, patient-based QC hingga pengecekan berbasis aturan secara real-time.
“Yang penting adalah keinginan rumah sakit di daerah seperti RS ODSK dan Rumah Sakit Prof Dr Kandouw untuk mau mengunnakan teknologi ini yng akann memberikan dampak terhadap pelayanan pasien.
Sebab ketika proses laboratorium lebih cepat, terkontrol dan informasinya dapat diakses secara tepat, maka dokter juga memperoleh dukungan informasi yang lebih baik dalam memberikan pelayanan,” katanya.
HCLAB juga menyediakan dashboard operasional dan manajerial sehingga manajemen rumah sakit dapat melihat kinerja laboratorium secara lebih cepat. Data yang dikumpulkan dari berbagai sumber dapat digunakan untuk memantau volume pemeriksaan, produktivitas serta berbagai indikator operasional.
Dari sisi keamanan dan kepatuhan, materi HCLAB yang diperkenalkan juga menyebut dukungan terhadap integrasi HIS/EMR, audit trail serta standar keamanan data yang relevan.
Sementara itu, dr. Ivan Master Worung, Sp.PK., FISQua., M.M, menjelaskan manfaat penerapan sistem informasi laboratorium dari perspektif medis yang bukan hanya pada persolan teknologi, tetapi menyangkut keselamatan pasien hingga dampak ekonomi.
Menurut dr Ivan, hasil laboratorium merupakan salah satu komponen penting yang digunakan dokter dalam menilai kondisi pasien. Karena itu, kecepatan dan ketepatan penyampaian hasil memiliki nilai klinis yang besar.
Salah satu fungsi yang dinilai penting adalah kemampuan sistem dalam mengenali hasil pemeriksaan yang masuk kategori kritis sehingga dapat menjadi informasi bagi tenaga medis untuk segera melakukan tindak lanjut sesuai kondisi pasien.
“Dari sisi medis, sistem informasi laboratorium yang baik membantu dokter mendapatkan informasi pemeriksaan pasien secara lebih cepat dan terstruktur. Ini sangat penting ketika dokter membutuhkan hasil laboratorium untuk menentukan langkah pelayanan,” jelasnya.
Ia menilai, manfaat tersebut pada akhirnya kembali kepada pasien. Semakin cepat informasi pemeriksaan tersedia dan semakin baik proses pengendalian mutunya, semakin besar pula dukungan sistem terhadap proses pengambilan keputusan klinis.
Meaki begitu, Ivan tetap menekankan bahwa teknologi tidak menggantikan keputusan dokter. Dan HCLAB berfungsi sebagai sistem pendukung informasi dan pengambilan keputusan klinis, sementara keputusan medis tetap berada pada dokter dan tenaga kesehatan yang menangani pasien.
Selain aspek medis, dr Ivan melihat terdapat manfaat ekonomi yang tidak kalah penting. Karena Otomatisasi dapat mengurangi pekerjaan manual, membantu meningkatkan produktivitas petugas laboratorium, mengurangi potensi kesalahan administratif maupun proses yang berulang, serta membantu manajemen rumah sakit melakukan pemantauan penggunaan sumber daya.
“Artinya kalau prosesnya lebih efisien, makanrumah sakit dapat mengendalikan biaya operasional dengan lebih baik. Hingga pada akhirnya, efisiensi rumah sakit juga berkaitan dengan kemampuan rumah sakit mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien,” katanya.
Dengan basis data yang terintegrasi, rumah sakit juga dapat melakukan evaluasi terhadap jumlah pemeriksaan, penggunaan alat, produktivitas laboratorium dan berbagai indikator pelayanan. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi manajemen dalam mengambil keputusan secara lebih terukur.
Karena itu, dr Ivan mendorong rumah sakit daerah untuk tidak melihat modernisasi sistem informasi laboratorium sebagai kebutuhan sekunder.
Menurutnya, rumah sakit pemerintah daerah jangan mubtertinggal dan perlu mulai memikirkan upgrade sistem informasi laboratorium sebagai bagian dari peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien spserti yang sudah dilakukan beberapa RS swasta seperti Siloam dan Sentra Medica.
Hal ini terasa semakin penting dan relevan bagi rumah sakit daerah di Sulawesi Utara yang melayani masyarakat dengan kebutuhan kesehatan yang terus berkembang.
Sebab rumah sakit tidak cukup hanya memiliki alat laboratorium modern apabila data dari berbagai alat tersebut belum dikelola dalam sistem yang terintegrasi. Begitu pula data pasien akan kehilangan sebagian manfaatnya apabila tidak dapat diakses secara cepat oleh pihak yang berwenang ketika dibutuhkan untuk pelayanan.
Karena itu, pengembangan sistem seperti HCLAB dapat diarahkan bukan hanya untuk kepentingan laboratorium, tetapi menjadi bagian dari ekosistem digital rumah sakit.
Boni menambahkan, proses integrasi sistem dengan berbagai perangkat laboratorium membutuhkan perencanaan teknis, termasuk pemetaan perangkat yang telah dimiliki rumah sakit dan kebutuhan konektivitas dengan sistem informasi lainnya.
Sementara itu, rumah sakit diingatkan bahwa dukungan pemeliharaan dan layanan purnajual juga menjadi faktor penting agar sistem tetap berjalan secara optimal setelah diterapkan.
Bagi dr Ivan, ukuran keberhasilan digitalisasi rumah sakit pada akhirnya bukan terletak pada seberapa mahal teknologi yang digunakan, melainkan pada seberapa besar teknologi tersebut mampu memberikan pelayanan yang lebih cepat, aman, akurat, efisien dan berorientasi kepada pasien.
“Rumah sakit harus melihat teknologi dari perspektif pasien. Pasien datang bukan untuk melihat kecanggihan sistem, tetapi membutuhkan pelayanan yang cepat, tepat dan aman. Karena itu, sistem informasi harus bekerja di belakang layar untuk membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.(**)
865 dilihat

