Advertisement
![]() |
| Para Muktamirin duduk santai diatas aspal di sepanjang jalan KH Wahab Abdullah lebih kurang 2 km, Kamis, (27/08/2026) |
JOMBANG — Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU memasuki fase paling menentukan. Hingga Kamis, 27 Agustus 2026 sore, bursa yang sebelumnya dipenuhi sejumlah nama mulai mengerucut.
Berdasarrkan lporan mwdia ini dari lokasi mujtanar menyebutkan tiga figur tersebut kini disebut-sebut paling berpeluang masuk dalam pertarungan akhir, yakni Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, dan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.
Ketiganya membawa modal politik-organisasi yang berbeda. Gus Yahya datang sebagai petahana dengan pengalaman memimpin PBNU, sementara Gus Kikin memiliki basis kuat dari jaringan pesantren dan struktur NU Jawa Timur. Adapun Gus Yusuf dikenal memiliki jaringan dukungan dari sejumlah struktur NU di daerah.
Namun, mengerucutnya tiga nama tersebut belum berarti pertarungan telah berakhir. Justru pada fase inilah dinamika dukungan para muktamirin menjadi semakin menentukan. Siapa yang mampu mengonsolidasikan suara hingga saat pemilihan akan menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang akan memimpin NU untuk periode lima tahun mendatang.
Sebelumnya, bursa sempat memunculkan sejumlah nama lain. Bahkan pada pekan-pekan menjelang Muktamar, sejumlah pemberitaan menyebut nama Gus Rozin, Gus Salam, Kiai Zulfa Mustofa, KH Nasaruddin Umar hingga KH Imam Jazuli ikut diperbincangkan.
Dengan demikian, peta politik Muktamar masih sangat cair. Nama yang saat ini dianggap kuat belum otomatis menjadi pemenang karena keputusan akhir tetap berada pada mekanisme Muktamar dan suara peserta yang memiliki hak pilih.
Di tengah memanasnya dinamika bursa Ketua Umum PBNU, pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026), berlangsung semarak dengan kehadiran Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sambutannya, Prabowo menyampaikan kedekatan emosionalnya dengan Nahdlatul Ulama. Bahkan, Presiden secara terbuka meminta agar dirinya diberikan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu).
Prabowo bahkan sempat berseloroh kepada Gus Yahya bahwa dirinya sudah lama meminta kartu tersebut dan berharap dapat memilikinya sebelum penutupan Muktamar.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen menarik dalam pembukaan Muktamar. Di hadapan warga Nahdliyin, Presiden juga menegaskan pentingnya kedekatan antara pemerintah dengan organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah dalam menjaga stabilitas serta kehidupan kebangsaan.
Besarnya perhatian terhadap Muktamar ke-35 NU juga terlihat dari membeludaknya warga Nahdliyin yang datang ke kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Kompleks pesantren dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung pembukaan forum tertinggi organisasi tersebut. Bahkan kepadatan tidak hanya terjadi di dalam kompleks pesantren.
Sepanjang Jalan KH Wahab Abdullah, warga terlihat memenuhi sisi jalan hingga kurang lebih dua kilometer. Sebagian memilih duduk lesehan sambil mengikuti rangkaian kegiatan Muktamar.
Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa Muktamar ke-35 NU bukan hanya menjadi agenda internal organisasi, tetapi juga menjadi magnet besar bagi warga Nahdliyin dari berbagai daerah.
Dari Sulawesi Utara, delegasi yang mengikuti Muktamar ke-35 NU tercatat berasal dari 15 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan satu Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU).
Dengan komposisi tersebut, delegasi Sulut memiliki total 16 suara yang masuk dalam peta dukungan Muktamar, sesuai dengan komposisi utusan yang disebutkan dari Sulawesi Utara.
Kehadiran delegasi Sulut menjadi bagian dari dinamika nasional Muktamar, terutama karena setiap suara dari wilayah dan cabang memiliki arti dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU periode mendatang.
Sementara itu, suasana di sekitar arena Muktamar menunjukkan pola pengamanan dan pengaturan peserta yang cukup ketat.
Para utusan Muktamar, termasuk delegasi PWNU Sulut yang masuk dalam radar peserta yang memiliki hak suara, terkesan lebih banyak berada dalam kawasan yang telah ditentukan panitia. Mereka tidak leluasa keluar-masuk arena Muktamar.
Kondisi tersebut membuat komunikasi dengan para pemilik suara menjadi semakin terbatas dan terkontrol. Situasi ini sekaligus menjadikan ruang-ruang komunikasi informal di luar arena sebagai bagian penting dari dinamika Muktamar.
Berbeda dengan muktamirin, para peninjau dari berbagai PWNU maupun PCNU lebih banyak menempati rumah-rumah kontrakan yang tersebar di wilayah Jombang.
Mendapatkan tempat tinggal di sekitar arena Muktamar ternyata bukan perkara mudah. Sejumlah utusan daerah bahkan disebut telah melakukan pemesanan rumah kontrakan sejak sekitar dua bulan sebelum Muktamar berlangsung.
Harga sewanya pun relatif tinggi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, harga rumah kontrakan untuk kebutuhan selama Muktamar berada pada kisaran Rp20 juta hingga lebih, tergantung lokasi dan fasilitas.
Delegasi Sulawesi Utara juga menyiapkan rumah kontrakan yang difungsikan sebagai posko. Lokasinya berada sekitar lebih dari 100 meter dari kawasan utama Muktamar.
Jika dihitung berdasarkan peninjau dari unsur wilayah dan cabang, terdapat sekitar 46 personel Sulut yang menempati rumah kontrakan tersebut.
Posko itu menjadi titik berkumpul para peninjau Sulut untuk mengikuti perkembangan Muktamar sekaligus menjadi tempat koordinasi selama pelaksanaan agenda organisasi.
Di tengah suasana Muktamar yang semakin padat, keberadaan posko-posko daerah seperti ini menjadi bagian penting dari aktivitas delegasi, khususnya bagi mereka yang tidak masuk dalam lingkaran peserta dengan hak suara.
Kini, perhatian mulai tertuju pada tiga nama yang disebut paling berpeluang: Gus Yahya, Gus Kikin dan Gus Yusuf.
Namun, dalam tradisi Muktamar NU, peta dukungan tidak selalu mudah dibaca hanya dari deklarasi terbuka atau pernyataan dukungan. Konsolidasi, komunikasi antarpengurus, sikap para kiai, serta keputusan para pemilik suara pada saat-saat terakhir dapat mengubah peta persaingan.
Karena itu, Kamis sore di Tambakberas bukanlah garis finis. Justru inilah fase ketika perta rungan menuju kursi PBNU 1 memasuki tikungan terakhir.(mid)
865 dilihat

