Bitung Dibuka ke Dunia, YSK–VM Dorong Indonesia Timur Keluar dari Bayang-Bayang Jawa

Foto:Ist
MANADO -- Manado tidak sedang bermimpi. Ia sedang bersiap. Di Aula GKN Manado, sebuah gagasan besar dibedah dengan kepala dingin dan kepentingan jangka panjang.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus Komaling dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay mengumpulkan aktor-aktor kunci ekonomi untuk satu tujuan, mengakhiri ketergantungan logistik Indonesia Timur pada Pulau Jawa.
Forum Group Discussion bertema transformasi Sulawesi, Maluku, dan Papua menuju simpul logistik global menjadi panggung awal. Bukan seremoni, tapi kalkulasi penuh perhitungan akurat.
“Sulampua bukan wilayah pinggiran. Ini mesin ekspor nasional yang selama ini bekerja dengan biaya mahal,” tegas Gubernur Yulius Selvanus di hadapan pelaku usaha, regulator, dan mitra internasional.
Selama bertahun-tahun, komoditas dari Indonesia Timur harus “memutar jauh” lewat pelabuhan di Jawa. Waktu habis, biaya membengkak, daya saing melemah. Bitung hadir sebagai jawaban.
Direct Call Bitung, Jalan Pintas yang Terlambat Tapi Tepat
Rencana pengembangan layanan direct call dari Pelabuhan Bitung disebut sebagai titik balik. Jalur pelayaran langsung ke Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dinilai mampu memangkas waktu pengiriman hingga dua pertiga dan menekan ongkos logistik secara signifikan.
Bagi Yulius Selvanus, ini bukan soal Sulawesi Utara semata.
“Kalau Bitung kuat, Sulampua ikut terangkat. Kalau Sulampua bergerak, Indonesia Timur punya masa depan yang lebih adil,” ujarnya lugas.
Ia menekankan bahwa Bitung harus dibangun sebagai simpul nasional, bukan simbol ego daerah. Efek dominonya jelas: tumbuhnya pergudangan, pusat distribusi regional, pelabuhan pengumpul, hingga masuknya investasi yang lebih berkualitas.
Tiongkok Melihat Peluang, Sulut Menyediakan Pintu
Kehadiran Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun memperkuat pesan bahwa Bitung tidak berjalan sendirian. Tiongkok, sebagai mitra dagang utama Indonesia, melihat Bitung sebagai penghubung strategis rantai pasok Asia Timur.
Perdagangan kedua negara yang melonjak drastis dalam satu dekade terakhir menjadi landasan kuat. Begitu pula investasi Tiongkok di sektor logam, energi, logistik, dan infrastruktur yang terus meningkat.
“Direct call Bitung bukan sekadar jalur kapal. Ini jalur pertumbuhan,” kata Djauhari.
Ia menyebut Bitung sejalan dengan visi Poros Maritim Dunia Indonesia dan inisiatif Belt and Road, membuka peluang integrasi kawasan industri lintas negara melalui skema twin ports dan twin parks.
Dunia Usaha Menunggu Kepastian
Pelaku logistik, eksportir, dan importir yang hadir menyuarakan harapan yang sama: konsistensi.
Bagi mereka, direct call bukan wacana akademik. Ini soal kepastian biaya, kecepatan pengiriman, dan keberanian menembus pasar global tanpa harus “mampir” ke Jawa terlebih dahulu.
Forum ini memberi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah tidak lagi berjalan sendiri. Ada sinergi pusat-daerah, ada dukungan internasional, dan ada keberpihakan pada efisiensi.
Indonesia Timur Mengambil Giliran
FGD ini menandai perubahan nada. Indonesia Timur tidak lagi meminta tempat. Ia sedang menyiapkannya sendiri.
Dengan Bitung sebagai pintu, Sulampua diarahkan menjadi bagian aktif rantai pasok Asia Pasifik. Bukan penonton, tapi pemain.
Dan bagi Yulius Selvanus dan Victor Mailangkay, ini baru langkah awal.
Langkah untuk memastikan Indonesia Timur tidak lagi selalu berangkat dari belakang.(ayi)
0 Response to "Bitung Dibuka ke Dunia, YSK–VM Dorong Indonesia Timur Keluar dari Bayang-Bayang Jawa"
Posting Komentar